



Bencana Merapi yang terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010 di daerah Yogjakarta yag meliputi 2 Provinsi yaitu Jawa Tengan dan DIY, mengakibatkan luluh lantakanya Pemukiman warga, sawah, ladang, Aliran sugai dan Jalan di daerah 5-15 Km yang disebabkan oleh semburan Awan panas yang bercampur Abu vulkanik di sertai Wedus gembel yang keluar dari letusan Merapi, Tidak sedikit korban yang meniggal maupun yang Luka-luka akibat bencana letusan merapi, Data yang terdapat oleh kami Korban yang meninggal sebanyak 66 Jiwa yang terletak di Daerah Sleman Yogjakarta tepatnya Cangkringan atau kediaman Bah Marijan, dan korban luka-luka kurang lebih ada 156 jiwa. Bencana merapi ini terbilang bencana yang terbesar dari sebelumnya karena waktu tahun 2004 intensitas bahanya tidak terlalu tinggi, sehigga masyarakat sangat merasakan kepanikan yang begitu tinggi dengan terjadinya letusan merapi.
Namun di sela-sela kepanikan warga yang megungsi dari daerah yang paling rawan 5-15 km, kami mendapatkan penemuan yang sangat berarti, baru kali ini kami melihat Warga yang mempunyai kepedulian yang sangat tinggi terhadap Korban yang terkena Bencana, samapai mereka mau meyambut dan mempersilaka kepada warga pengungsi untuk berdiam ( berlindung ) di rumah nya, meski pemukiman mereka juga terkena hujan Abu yang sangat tebal namun tidak terlalu membahayakan, bukan hanya itu selama korban pengugsi berada, mereka siap memberi makan selama mereka berada di rumah warga yang terbilang aman dari zona letusan Merapi, swadaya pun terlihat tumbuh di kalangan Masyarakat untuk bersama-sama memberikan makanan dan kebutuhan pengungsi, berbeda dengan di daerah kita sewaktu terjadi Gempa pada tahun 2009 sikap atau prilaku yang seperti ini tidak terjadi dan tidak dapat dirasakan, yang ada terjadi kericuhan antar sesama dengan kepanikan individu masing-masing, namun terbilang wajar karena Gempa yang terjadi tahun lalu merupakan bencana awal untuk warga masyarakat kabupaten Bandung.
Maka kami rasa prilaku yang seperti itu patut kita tiru di daerah kita sendiri untuk bahan antisipasi dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama.
Aktivitas Relawan Rakom Citra Dan Wanapasa
Kami atas nama Radio Komunitas Citra dan Wahana Pecinta Alam ( WANAPASA ) Kertasari Gunung Wayang seminggu dari kejadian letusan Merapi kami bergegas melakukan Aksi solidaritas yang berbentuk Peggalangan Dana untuk membantu soudara kita yang tertimpa bencana, peggalangan Dana yang dilakukan selama 4 hari di Daerah Kertasari Cibeureum bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp. 2300.000- yang terdapat dari Masyarakat Kertasari, Pelajar MA-Mts Sukasari dan MA-Mts Al-fatah Cikembang, setelah itu kami mengirimkan Anggota Relawan untuk mendistribusikan sungbangan tersebut dan membantu korban Bencana selama 1 minggu, ada pun yang kami sumbangkan dari hasil yang kami peroleh kami belanjakan untuk kebutuhan korban bencana, di antaranya Masker sebanyak 3 pcs, alat mandi dan juga hewan ( kambing ) untuk dikurbankan di daerah pengungsian.
Hal yang sangat mendasar disaat kondisi Masyarakat sekarang yang begitu kritis terhadap permaslahan Kepemerintahan Kab.Bandung, di awali dengan Kebencanaan yang terjadi di Kab.Bandung dari mulai Gempa, Banjir, Longsor dan Bencana social, ternyata setelah di teliti selama ini kondisi atau titik masalahnya bukan hanya di puncak Gunung saja namun sudah meresap juga ke Puncak Gunung Kekuasaan, sangat perih memang kalau melihat persoalan-persoalan yang ada di Daerah kita, namun tidak hanya cukup disana kita merasakah keperihan, menanggapi sebagian dari Bencana yang terjadi di daerah kita Contohnya Gempa dan Banjir ,Gempa : Terasakan sangat rumit sekali oleh warga Korban Gempa dalam penanggulangan Rehab dan Rekontruksi yang di lakukan oleh Pemerintahn Kabupaten terkesan tidak Propesional, yang paling di sayangkan juga di saat keluar Dana Stimulan dan Family Cit dengan Dasar berkat Masyarakat yang Protes keras terhadap Bupati Bandung yang tergabung dalam nama Solidaridas Masyarakat Korban Gempa ( SMKG ), hingga menduduki Gedung DPRD selama 2hari, Maslah tidak cukup disana meski keluar juga Dana Stimulan dan Family cit, karena dalam proses pembagian Dana tersebut harus memasuki Kriteria yaitu Tahap Rusak sedang, Rusak Ringan Dan Rusap Parah masalah mulai muncul di masyarakat yang beranggapan dan mempunyai harapan tidak ada pemisahan dalam pembagian uang tersebuat karena yang namanya bencana kami juga merasakan itu salah satu lontaran kata yang keluar dari Masyarakat korban gempa,namun karena itu sudah menjadi aturan yang haus di lakukan akhirnya masyarakat menyepakati, pengguliran Dana tersebut melalui Dua tahap, trahap pertama pada Bulan Mei lalu sudah selesai dengan dana kurang lebih 1T untuk kabupaten Bandung, nah dalam tahap yang kedua Masyarakat sudah mulai mempertanyakan karena hingga saat ini yang Rencannya bulan Juli akan Cair sampai Agustus sekarang belum juga keluar, keresahan Masyarakat akhirnya terdengar Oleh Gubernur Heriawan di saat Kunjungan ke Daerah Pangalengan dalam Agenda peresmian Sekolah yang rusak Waktu Gempa, dan beliau menjanjikan akhir bulan Agustus sekarang sudah bias cai dan di bagikan kepada Korban denga jumlah Dana kurang lebih sekitar 2 T,Kemudian tidak lama Masyarakat Bawah merasakan Bencana pula yaitu Banjir dan lagi-lagi sangat disayangkan prilaku Pemerintah Kabupaten bahwa Bencana yang mengakibatkan 3 kelurahan mengungsi selama 4 Bulan, dan menimbulkan korban jiwa 3 orang dan korban Sosial mereka menyimpulkan bahwa yang terjadi ini bukanlan bencana, lalu apa kalau bukan bencana? Sangat mengundang Emosi Warga disaat kata itu terdengar, Tanggap Darurat yang tidak sinergis dan tak menentu, Pelayanan yang tidak terasakan sangat menimbulkan sikap masyarakat yang akhirnya kekecewaan, kebencian lahir di diri masyarakat yang paling terparah sudah tidak mau lagi percaya terhadap Partai.dan sekarang masyarakat harus di hadapkan dengan PEMILUKADA Kab.Bnadung, dan ini menjadi salah satu hal yang krusial namun mebingungkan pikiran masyarakat hingga-hingga tidak sedikit yang mengatakan akan Golput dan tidak akan memilih dengan alasan tidak ada lag kepercayaan kepada Pemerintah dengan salah contoh yang sudah di perlihatkan kepada masyarakat terkait persoalan yang ada di Kabupaten belum juga kalau berbicara masalah Kesjahteraan waduh sudah lain lagi bahasannya, dan juga masyarakat berpikiran saat ini kami hanya di jadikan Objek saja untuk kepentingan yang sepihak,yang akhirnya timbul pertanyaan apa perlu saya untuk memilih lagi? Apa perlu saya untuk mengatakan Golput atau tidak mencoblos? Tutur ucapan salah satu dari masyarakat yang betul-betul kebingungan, kami tidak ingin lagi terjadi di saat bencana datang hanya berbicara bahwa itu bukan bencana tapi sudah menjadi kebiasaan, kami tidak ingin mendengar lagi ada politisi-politisi busuk dari para kekuasaan yang hanya menjadikan kami objek saja untuk kepentingan mereka, karena hanya satu yang di inginkan kami yaitu kesejahteraan dan kedamain yang kekal.